Pelecehan Seksual di Gereja Meningkat, Korban Diperlakukan Seperti Anjing


Nasional ~ Laporan pelecehan seksual terhadap pendeta Katolik di Filipina meningkat, menurut peneliti senior gereja, lansir Aljazeera Kamis (16/02/2017).


Film dokumenter baru 101 East mengungkapkan bahwa menuntut pendeta yang diduga melakukan pelecehan seksual sangat langka di negara Katolik terbesar di Asia tersebut.

Beberapa terduga korban mengatakan mereka ditekan untuk tidak mengajukan tuntutan dan diberi uang agar mereka diam.

Imelda berusia 15 tahun ketika dia mengatakan pendeta di desanya melakukan serangan seksual padanya.

“Setelah dia mencium dahiku, dia memelukku,” kenangnya. “Itu benar-benar menyakitkan. Mengapa ia melakukan itu padaku?”

Dia mengatakan bahwa ketika keluarganya mengetahui bahwa dia telah melaporkan kejadian tersebut ke polisi, mereka memukulinya.

“Mereka benar-benar memukuli saya hingga saya takut untuk pulang ke rumah. Mereka marah kepada saya. Mereka mengatakan bahwa apa yang saya lakukan itu salah. Mereka memperlakukan saya seperti anjing liar karena apa yang saya lakukan, karena saya mengajukan kasus, “katanya.



Lalu ia mengatakan bahwa seorang pria dan seorang wanita dari gereja memberinya $ 150 untuk membatalkan tuntutan. Kasusnya tidak pernah sampai ke pengadilan.

Pensiunan Uskup Agung Oscar Cruz, yang mengepalai Tribun Banding Nasional Gereja Katolik di Filipina (the Catholic Church’s National Tribunal of Appeals in the Philippines), mengatakan ia menerima banyak keluhan pelecehan seksual yang melibatkan para pendeta, termasuk tuduhan pedofilia.

“Masyarakat awam, terutama di daerah perkotaan, telah menjadi semakin waspada dan berani dalam mencela kekeliruan pendeta,” katanya.

Pendeta Elmer Cajilig dan dua pendeta lainnya telah memberikan pelayanan Katolik gadungan buatan mereka sendiri [101 East / Al Jazeera]

“Saya mungkin akan membuat para uskup lain tersinggung tapi ini adalah pendapat pribadi saya, tidak bisa lagi jika Anda hanya menutup mata dan telinga Anda … seolah-olah tidak ada yang terjadi.”

Al Jazeera juga menemukan bahwa beberapa pendeta Filipina melanggar sumpah selibat dan menjadi seorang pendeta.

Pendeta Elmer Cajilig, yang memiliki empat anak dengan wanita yang telah menjadi pacarnya sejak lama mengatakan bahwa sumpah selibat yang ditahbiskan bagi para pendeta “hanyalah aturan buatan manusia”.

“Tuhan tidak mengatakannya, jadi saya pikir saya tidak bisa mengatakan bahwa saya telah melakukan dosa. Saya hanya melanjutkan mandat-Nya … untuk hidup dan berkembang biak.”



Pendeta Cajilig dan dua pendeta lainnya yang juga memiliki anak telah menyiapkan pelayanan gadungan Katolik ciptaan mereka sendiri, di mana mereka berkhotbah dalam gereja-gereja milik pribadi.

Mereka telah menulis ke Vatikan, meminta untuk diterima oleh Gereja.

Pendeta Jaime Achacoso, sekretaris Canon Law Society di Filipina, mengutuk para pendeta yang telah menjadi ayah ini, tetapi mengatakan di beberapa keuskupan terpencil, satu dari lima pendeta telah memiliki anak.

“Itulah kenyataan yang terjadi di daerah-daerah di mana disiplin, serta hirarki tidak begitu terorganisir dengan baik,” kata Pastor Achacoso.

Vatikan tidak menanggapi permintaan Al Jazeera untuk memberikan komentar tentang bagaimana menangani dugaan penyimpangan seksual dan penyalahgunaan rohaniwan di Filipina.

Ketika ditanya apakah para uskup Filipina diwajibkan untuk melaporkan dugaan kekerasan seksual kepada otoritas sipil, Pendeta Achacoso mengatakan semua penyelidikan harus diserahkan kepada Gereja.

“Seseorang tidak bersalah sampai terbukti sebaliknya, dan Gereja menangani kasus ini dengan banyak kebijaksanaan, selain untuk melindungi martabat dan nama baik pendeta juga untuk korban.”


Sumber Berita : jurnalislam
close
Berita Islam