Viral, Wanita Bercadar Mau Nikahi Pria Bertato & Gak Alim, Kisah Dibaliknya Mengharukan


KisahUmat.com ~ Dilansir dari tribunnews.com, Sebuah kisah rumah tangga yang terbilang langka diceritakan akun Facebook dengan nama Nur Nazihah Ramli. Beberapa kalangan akan menganggap pasangan ini aneh seperti yang dirasakan akun tersebut saat menceritakan kisah cintanya tersebut.

Banyak orang yang memandang lain hingga seolah timbul pertanyaan besar mengapa wanita berniqab dan bercadar ini bersedia menikah dengan pria bertato.

Seolah ingin mencurahkan isi hatinya agar semua dunia tahu alasannya menikahi pria tersebut, ia pun menulis tulisan panjang di Facebooknya pada Minggu (15/10/2017).

Pun ia menceritakan momen romantis di antara keduanya saat di rumah sebagai kalimat pembukanya. Meskipun suaminya terlihat urakan bahkan seperti preman, namun ia sangat sayang dengan istrinya.

Suaminya itu tak malu dan enggan untuk memasak di dapur, membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Wanita itu mengakui jika dirinya memang tidak bisa memasak bahkan tidak rajin soal urusan beres-beres rumah.

Namun suaminya justru menjawab hal itu bukanlah masalah, karena dia mencari seorang istri bukan pembantu yang harus bisa mengerjakan itu semua. Hal itu yang membuatnya semakin jatuh cinta dengan suaminya.

Tak hanya itu, meskipun bertato dan wanita ini mengakui suaminya bukanlah orang alim dalam beragama. Namun suaminya ini selalu salat tepat waktu, bahkan sering menegurnya untuk berjamaah ketika terdengar adzan tapi ia masih mainan hp.

Penampilan suaminya memang terbilang seperti bukan orang baik-baik, hanya saja sikapnya padanya yang sudah membuat dirinya merasa dihargai menjadi seorang perempuan.

Suaminya mengatakan sangat suka istrinya yang berniqab karena tidak ingin pria lain melihat kecantikan istrinya. Sepertinya kegagalan dalam berumah tangga sebelumnya yang telah banyak membuatnya lebih menjaga rumah tangganya.

Berikut ini AKUN FACEBOOKNYA & curhatan panjang wanita ini di Facebook: (Akun Facebook di Akhir Artikel)

Terlelap lepas Isyak. Lalu terbangun pukul 2.30. Cari suami tengok kiri kanan, tak ada. Dengar bunyi di dapur.

"Mungkin suami aku sedang masak", ujarku. Teringat masa sebelum nikah, saya beritahu suami, "Abang, saya ini tak rajin masak, tak rajin mencuci baju , lipat baju, mengemas rumah dan sebagainya,"

"Bangun tidur pun sering saat sudah siang hari," jujur saya beritahu dia. Dia senyum. "Abang nikah dengan kamu untuk dijadikan isteri, bukan cari orang buat digaji," katanya.

Seketika tersentak saya. Saya tertunduk diam, senyum. Apa yang saya alami mungkin sedikit 'istimewa'.

Menikahi seorang duda yang bertato yang tidak arif soal agama, dan punya seorang anak perempuan hasil pernikahannya dengan mantan isterinya.

Dia pernah menikah dan pernah gagal. Saya lihat sendiri bagaimana dia berusaha bersungguh-sungguh memperbaiki hubungan terdahulu, dan bagaimana dia menjadikan kesalahannya dulu sebagai pelajaran dalam hubungan kami.

Seperti hari-hari biasa, manusia memandang kami dengan pandangan yang kejam. Saya tidak pernah marah pada tato dia, walaupun di awal perkenalan kami dahulu saya kurang senang dengan tatonya.

Astaghfirullah, itulah kelemahan saya dahulu. Juga seperti masyarakat lain yang memandang dia dengan pandangan yang buruk. Pandangan masyarakat juga pada kami seolah-olah kami tidak layak bersama.

Dia punya tato sedangkan saya berjilbab dan berniqab. Ini masalah yang sudah biasa yang kami lalui sepanjang kehidupan kami sebagai suami isteri.

Bayangkan, kami pernah bertemu dengan sekumpulan wanita yang berjubah dan berniqab, mereka akan mencubit lengan sesama mereka. Memandang kami sambil melirik dan berbisik-bisik, lalu pergi dengan langkah yang laju.

Begitu juga ketika kami bertemu dengan golongan pria-pria berhaji atau pria berjubah, bersongkok atau berkopiah. Ada yang menggeleng-geleng kepala, ada yang sampai melotot.

Ada yang tak melepas pandangannya. Mereka melototi saya yang berjubah berniqab ini, lalu melihati suami yang bertato. Bayangkan juga, bagaimana andai institusi agama Islam sendiri memandang kami dengan pandangan yang 'pahit untuk ditelan'.

Sedangkan Islam itu agama yang baik dan sempurna. Saya rasa andai kalian di tempat kami, tak banyak yang punya hati yang kuat. Banyak masalah yang bisa buat kita makan hati dengan masyarakat, namun hati kami tetap kuat.

Bila ditanya kenapa suami masih bersinglet? Saya jawab, dia masih di jalan hijrah. Andai kalian paham, jalan hijrah seseorang bukan makan masa yang singkat. Saya sendiri pun walaupun berjubah dan berniqab, masih lalai dengan agama.

Jalan hijrah tidak perlu drastis. Saya banyak mengambil contoh diri saya sendiri dalam landasan perjalanan menuju jalan Allah SWT. Ada orang yang oleh Allah diberi perjalanan hijrahnya cepat, ada orang yang perjalanan hijrahnya makan waktu.

Setiap orang rezeki taufik hidayahnya tidak sama. Manusia memang akan cepat menilai dan melihat keburukan, kelemahan dan keaiban manusia lain. Bagi saya, untuk permulaan perjalanan hijrah yang makan waktu ini, suami sudah tanggalkan anting-anting yang dipakainya, dan saya sangat bersyukur.

Orang lain takkan faham apa yang dirasa oleh saya. Saya terima suami seadanya walaupun saya tahu jalan penghijrahan itu makan waktu yang amat panjang. Saya ingat lagi, saya pernah ajukan satu pertanyaan kepada suami, karena saya ingat mantan isterinya seorang yang tidak berjilbab.

"Abang suka saya pakai jilbab?" tanya saya saat itu. "Ehh sukalah", jawabnya. Saya ketawa. "Abang suka saya pakai niqab?" Saya tanya lagi. "Suka sekali, sayang. Pakailah. Biar abang seorang saja yang melihat kamu. Tak bisa orang lain melihat!", jawabnya.

Demi Allah saya sangat happy dengar jawapan itu. Jawaban dari suami sendiri. Sebab saya sedar, banyak kawan-kawan saya yang dahulunya berniqab, namun selepas bergelar isteri, niqab tiada lagi menutupi wajah mereka.

Tak apalah. Tak kisah masalah itu. Wajah bukan hanya aurat bagi saya. Bila dianugerahi Allah SWT seorang suami yang masyarakat pandang jahat dengan tato yang penuh di tangan, dada, jari, belakang dan kaki, tak akan ada yang menyangka, walaupun lelaki ini tidak pandai tentang seluk beluk agama, namun dia seorang yang sangat tegas menjaga salat dan aurat isterinya.

Ya Allah, belum lagi masuk kisah salat, bagaimana suami yang bertato ini kalau sudah masuk waktu salat. Jika dilihatnya isterinya masih sibuk dengan smartphone ditangan, cukup suami saya berdehem, lalu cepat-cepat saya berlari mengambil wudhu.

Begitu juga di kala orang lain memilih pakaian untuk Hari Raya, suami pula lebih gemar saya memakai jilbab dan berniqab. "Baju kurung pun tak boleh? Tutup aurat juga," tanya saya.

Lama suami terdiam. Mungkin tertegun dengan pertanyaan isteri. Lantas dia memeluk bahu isterinya ini sambil berkata, "Abang suka kamu pakai jilbab," Saya pun ketawa. Hahaha!

Bila ditanya kenapa saya yang berjubah, dan berniqab ini tidak memilih lelaki yang pandai agama, bukan dari golongan ustaz atau yang bersongkok, berkopiah, berjubah? Saya senyum.

Biarlah ia menjadi simpanan rahasia yang paling dalam. Tidak mahu membuka aib soal keagamaan. Biar saya simpan pendam segala trauma yang paling dahsyat yang pernah menghantui sepanjang hidup.

Biarlah saya membuka lembaran baru dalam hidup bersama seorang suami yang dipandang 'kaca', yang tidak bernilai oleh masyarakat, namun dia adalah 'berlian' paling mengkilap dalam qalbu.

Dear husband,Tak peduli apa kata orang, ini isterimu yang sentiasa ada disisi dengan izin Allah SWT. Tak tahu bagaimana ucap terima kasih macam mana lagi, sebab semua pakaian, sepatu, cadar, dia yang cuci. Dia yang masak, dia yang mengemas rumah, dialah yang bertukang kalau ada apa-apa yang perlu diperbaiki rusak di rumah. Dialah tempat mengadu, dialah sahabat, dialah tempat bermanja, dialah kawan sejati!

Sampai satu masa, saya pernah tanya suami, "Kalau pernikahan kita ini Allah uji dengan tiada anak?" Suamiku memeluk erat, "Abang tak berpikir semua itu. Ada, atau tak ada... itu semua kerja Allah. Macam pernikahan kita inilah... abang sendiri tak sangka bisa menikah dengan kamu yang pakai niqab macam ini,"

"Banyak benda yang kita tak tahu tapi Allah SWT sudah persiapkan untuk kita sebab yang memberi rezeki semuanya adalah Allah SWT. Kenapa perlu ada persoalan dengan kerja Allah?" Jawab suami.

''Fabi ayyi ala'i rabbikuma tukazziban'', Nikmat tuhan kamu yang manakah kamu dustakan? Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Terima kasih Allah atas anugerah yang terindah.

Akun Facebooknya: facebook.com/mujahidahiman96


ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.KisahUmat.com
Sumber Berita : tribunnews.com
close
Berita Islam